Anak Guruku Adalah Pasienku


ANAK GURUKU ADALAH PASIENKU

Namaku adalah Anggi. Aku seorang dokter ahli penyakit dalam di salah satu rumah sakit swasta dan memiliki tiga tempat praktek yang tidak jauh dari kediamanku.

Jam tanganku menunjukkan pukul 16.30 tepat, saatnya bergegas menuju klinik penyakit dalam. Dari kejauhan sudah tampak banyak kendaraan  baik mobil maupun motor yang telah memenuhi area parkir klinik. Aku segera keluar dari mobil dengan tergesa-gesa agar pasien tidak lama menungguku. Ketika menuju ke dalam ruangan praktek, aku melihat sosok wanita paruh baya yang sangat familiar di ingatanku. Aku segera mendekat dan menyapanya dengan penuh rasa rindu. “Bu Fitri” sapaku dengan lembut. Wanita paruh baya tersebut sangat bangga menatapku  dengan penuh rasa rindu. “siapa yang sakit Bu?” tanyaku penasaran. “Anak saya nak, si Kiki, dia sudah lima hari menderita diare” jawab ibu Fitri dengan suara parau.

Ibu Fitri adalah salah satu guru idolaku saat duduk di bangku SMA. Aku sangat menyayangi dan menghormati bliau, dia adalah guru yang paling sering memberikan motivasi untuk belajar sungguh-sungguh.

Ketika hendak minta izin untuk masuk ke dalam ruangan, Ibu Fitri berkata, “Nak, boleh tidak anak saya yang ditangani duluan?” . Aku terdiam sejenak dan memandang kartu antrian yang bertuliskan nomor urut 99. “Sebelumnya saya minta maaf Bu, kami harus menjalankan prosedur yang telah ditetapkan, mohon Ibu menunggu sebentar sampai saatnya giliran Ibu” aku memberikan penjelasan kepada Ibu Fitri dengan sangat halus dan hati-hati.

Mendengar hal tersebut, Ibu Fitri terdiam dan kembali duduk. Kulihat raut wajah guruku berubah menjadi merah kemudian tertunduk malu. Sebenarnya aku tidak tega berkata demikian kepada Ibu Fitri apalagi di depan pasien-pasien yang lain. Tapi ini merupakan prosedur yang harus aku lakukan demi untuk kepentingan bersama.

 

created by : AFDILAH MUTIANGGRISNY