Gangguan Preferensi Seksual


Fetishisme 

  • Mengandalkan pada beberapa benda mati (non-living object) sebagai rangsangan untuk membangkitkan keinginan seksual dan memberikan kepuasan seksual . Kebanyakan benda tersebut (objek fetish) adalah ekstensi dari tubuh manusia, seperti pakaian atau sepatu.
  • Diagnosis ditegakkan apabila objek fetish benar-benar merupakan sumber yang utama dari rangsangan seksual atau penting sekali untuk respons seksual yang memuaskan.
  • Fantasi fetishistik adalah lazim, tidak menjadi suatu gangguan kecuali apabila menjurus kepada suatu ritual yang begitu memaksa dan tidak semestinya sampai mengganggu hubungan seksual dan menyebabkan penderitaan bagi individu.
  • Fetishisme terbatas hampir hanya pada pria saja.
Transvestisme Fetishistik
  • Mengenakan pakaian dari lawan jenis dengan tujuan pokok untuk mencapai kepuasan seksual.
  • Gangguan ini harus dibedakan dari fetishisme . Di mana pakaian sebagai objek fetish bukan hanya sekedar dipakai, tetapi juga untuk menciptakan penampilan seorang dari lawan jenis kelaminnya. Biasanya lebih dari satu jenis barang yang dipakai dan seringkali suatu perlengkapan yang menyeluruh, termasuk rambut palsu dan tata rias wajah.
  • Transvestisme fetishistik dibedakan dari transvestisme transsexual oleh adanya hubungan yang jelas dengan bangkitnya gairah seksual dan keinginan /hasrat yang kuat untuk melepaskan baju tersebut apabila orgasme sudah terjadi dan rangsangan seksual menurun.
  • Adanya riwayat transvestisme fetishistik biasanya dilaporkan sebagai suatu fase awal oleh para penderita transseksualisme dan kemungkinan merupakan suatu stadium dalam perkembangan transseksualisme.
Ekshibisionisme 
  • kecenderungan yang berulang atau menetap untuk memamerkan alat kelamin kepada orang lain (biasanya lawan jenis kelamin) atau kepada orang banyak di tempat umum, tanpa ada ajakan atau niat untuk berhubungan lebih akrab.
  • Ekshibisionisme hampir sama sekali terbatas pada laki-laki heteroseksual yang memamerkan pada wanita, remaja atau dewasa, biasanya menghadap mereka dalam jarak yang aman di tempat umum. Apabila yang menyaksikan itu terkejut, takut, atau terpesona, kegairahan penderita menjadi meningkat.
  • Pada beberapa penderita, ekshibisionisme merupakan satu-satunya penyaluran seksual, tetapi pada penderita lainnya kebiasaan ini dilanjutkan bersamaan (simultaneously) dengan kehidupan seksual yang aktif dalam suatu jalinan hubungan yang berlangsung lama, walaupun demikian dorongan menjadi lebih kuat pada saat menghadapi konflik dalam hubungan tersebut.
  • kebanyakan penderita ini mendapatkan kesulitan dalam mengendalikan dorongan tersebut dan dorongan ini bersifat “ego-alien” (suatu benda asing bagi dirinya).
Voyeurisme 
  • kecenderungan yang berulang atau menetap untuk melihat orang yang sedang berhubungan seksual atau berprilaku intim seperti sedang menanggalkan pakaian.
  • Hal ini biasanya menjurus kepada rangsangan seksual dan masturbasi, yang dilakukan tanpa orang yang diintip menyadarinya.
Pedofilia
  • Preferensi seksual terhadap anak-anak, biasanya pra-pubertas atau awal masa pubertas, baik laki-laki maupun perempuan.
  • Pedofilia jarang ditemukan pada perempuan.
  • Preferensi tersebut harus berulang dan menetap.
  • Termasuk : laki-laki dewasa yang mempunyai preferensi partner seksual dewasa, tetapi karena mengalami frustasi yang kronis untuk mencapai hubungan seksual yang diharapkan, maka kebiasaannya beralih kepada anak-anak sebagai pengganti.
Sadomasokisme 
  • Preferensi terhadap aktivitas seksual yang melibatkan pengikatan atau menimbulkan rasa sakit atau penghinaan; (individu yang lebih suka untuk menjadi resipien dari perangsangan demikian disebut “masochism”, sebagai perilaku = “sadism”)
  • Seringkali individu mendapatkan rangsangan seksual dari aktivitas sadistik maupun masokistik.
  • Kategori ini hanya digunakan apabila aktivitas sadomasokistik merupakan sumber rangsangan yang penting untuk pemuasan seks.
  • harus didbedakan dari kebrutalan dalam hubungan seksual atau kemarahan yang tidak berhubungan dengan erotisme.
Frotteurisme 
Menggosok-gosokkan alat kelaminnya kepada orang yang tidak dikehendaki.
Nekrofilia
lebih senang berhubungan seksual dengan mayat. Hal ini biasanya terjadi pada laki-laki
Pygmalionisme 
Lebih senang berhubungan seksual dengan manikin/patung/boneka.
Zoofilia
Lebih senang berhubungan seksual dengan binatang, misalnya pada sapi
Scatolofia 
Cybersex, lebih terangsang apabila mendengarkan suara desahan di telpon ataupun dari komputer dan sejenisnya.
Coprofilia / Klismafilia
Kemampuan seks sambil defekasi (buang air besar) terhadap pasangannya, bahkan bisa jadi pasangannya memakan feces yang diekskresikan oleh pasangannya.
Urofilia
Sama dengan Scatolofia, tapi bedanya adalah pasangannya mengeluarkan urine.
Source :
Kuliah Psikiatri Fakultas Kedokteran Unismuh Makassar angkatan 2010
Buku Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ-III) tahun 2001